habis gelap terbitlah terang?

13 06 2008

Hanya air mata, dan sesal kurasa

Di depanku kau bercinta

Kau ingkari janjimu, ‘tuk setia bersamaku

Kini kau bunuh hatiku


Ku tak ingin dengar ratapanmu

Dan ku takkan lagi menyentuhmu

Pergi dan jangan kembali

Ku ingin sendiri


Perjalanan panjang cinta kita

Sekejap kau hancurkan slamanya

Inikah takdir untukku

Dicintai ‘tuk disakiti


Ku tahu kau masih sayang dan menyesali sgalanya

Sayang maaf ku tak bisa..

(Dicintai ‘Tuk Disakiti – Ari)

Siang tadi gue denger lagu ini mengalun di radio mobil yang membawa gue dari percetakan kembali ke kantor. Lagu ini pernah gue denger live di sebuah kafe, langsung dari Ari-nya sendiri. Denger lagu ini, gue jadi inget pembicaraan panjang sama sahabat gue semalam pas pulang kantor. Kebetulan gue nebeng mobilnya (uhmm, lebih tepatnya krn dia meminta gue jadi joki, dasarr.. :P ). Di mobil itu dia cerita soal mantannya yang pernah pacaran sama dia selama 3 bulanan gitu. Katanya, awalnya cowok itu minta untuk mereka menikah, pdhl pacaran juga blom. Temen gue sih ogah, dia bukan tipe yang tau2 langsung mau diajak kawin. Apalagi mereka ini sahabat deket banget. Rasanya kok aneh. Tapi trus mereka pacaran, walau temen gue ini gak ngerasa hal yg sama dengan si cowok. Begitu 3 bulan, mulai rada ‘aneh’. Sahabat ini mulai ngearasa sayang sama ni cowok. Tapi si cowok ini gak lama bilang mau putus, dengan alasan klasik: “It’s not you, it’s me.” Halah. Sahabat gue ini terus terang berasa hancur banget. Karena dia ngerasa kehilangan sahabat dekat. Sahabat gue ini trus mengusir cowok ini dari rumahnya.

Pembicaraan trus berlanjut. Setelah putus ini, gak lama kemudian, sahabat gue ini bbrp kali pacaran dan putus sampai akhirnya ketemu dengan cowok yang jadi suaminya sekarang. Dari situ dia pun menyimpulkan, kayaknya memang kita sepertinya harus ‘dipertemukan’ dulu oleh orang yang ‘kurang ajar’ sebelum dapet yang bener2 jodoh kita.

Gue pun cerita hal yang sama. Sebelum gue ketemu dengan Andy, gue pernah pacaran dengan seorang cowok. Let’s say namanya B. Awalnya dia begitu baik sama gue. Like an angel. He saved me from my misery. Dia yang ‘mengangkat’ gue sampai gue meraih hidup gue lagi. Waktu nembak, dia bilang, “Wulan, boleh gak aku jadi cowok kamu?”. Sebuah permintaan yang gak biasa buat gue. Biasanya kan sebaliknya. Di situ dia bilang krn dia sangat menghormati gue, dia juga sayang sama gue.

Ok.

Terus terang gue seneng banget waktu itu. He’s like my dream come true. Dia memperlakukan gue dengan sangat baik, sangat sayang sama gue. Dia bisa membuat gue ngerasa sangat bahagia. Hubungan ini berjalan kira2 1.5 tahun.

Pada akhirnya, di suatu malam, justru dia membuat gue sakit hati. Persis seperti lagu di atas. Dalam satu malam, dia menghancurkan semua mimpi yang kita bangun bareng2. Semua perjalanan cinta gue dan dia. Cuma dalam semalam. I caught him cheating. A cheat he didn’t confess. Dan kemudian dia mengeluarkan semua isi hatinya yang ia pendam sejak lama. Gue hancur banget saat itu. Dia mutusin gue.

O well.

Gue masih sayang sama dia, dan gue gamau kita putus. Sedikit memaksa, gue pengen kita break dulu sambil introspeksi. Dia bilang cuma kayak menunda suntik mati aja. Rasanya sakit banget, bener2 dia udh gak punya rasa lagi. Setelah mengangkat gue begitu tinggi, tiba2 dia jatuhkan gue dari atas. Walau setengah hati, dia meng-ok-kan terms break ini. Tapi dia gak akan nelpon dan dateng ke rumah gue lagi buat sementara. Malam itu gue habiskan dengan bengong, seperti ada yang hilang. Dan dalam beberapa hari berikutnya gue nangis gak berhenti. Sakit banget.

Setelah sekitar sebulan (gue lupa), gue mulai bisa melupakan dia. Di suatu siang, tau2 dia menelepon gue. Gue gak berani angkat. Gue gamau sakit hati yang udh mulai sembuh ini muncul lagi. Telp itu terus2an bunyi. Sampai akhirnya dia meng-sms gue dengan meminta gue mengangkat telpnya. Maaf, tp gue bener2 gak bisa.

Beberapa hari dia mencoba dan mencoba lagi. Sms juga gak berhenti. Dia pun mencoba meng-YM gue. Intinya dia meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Gue gak balas satupun. Tega banget dia. Kok bisa2nya kayak gitu sama gue. Dia memohon2 untuk gue memaafkan dia. Terus terang gue mulai belajar maafin dia, tapi gue gak bisa dan gak akan pernah bisa lupa. Yes, you’re forgiven, but not forgotten.

Pada suatu hari dan di sms yang ke-sekian, akhirnya gue membalas dengan kata penutup seperti, “Stop contact me. I’m happy now. Sori, tapi gue gamau liat loe lagi”. Setelah itu rasanya gue lega. Dia masih membalas, tapi gue udh gak peduli. Terus terang, gue jadi benci banget sama ni orang.

Setelah itu, gak berapa lama kemudian, gue ketemu cowok yang akhirnya menjadi suami gue sekarang.

Well, mungkin memang benar ya. Kita musti ketemu yang ‘bajingan’ dulu sebelum ketemu yang benar2 baik sama kita, biar kita lebih kuat secara mental dan lebih dewasa, dan benar2 tau mana yang terbaik. Wallahualam.


Actions

Information

Leave a comment